Workshop CreativeNet (Penguatan Masyarakat Sipil Melalui Medium Kreatif)

Sabtu, 9 Mei 2015, CCES telah menggelar workshop “CreativeNet” dengan tajuk “Penguatan Masyarakat Sipil melalui Medium Kreatif,” di LPP Garden, Jogjakarta. 6 Komunitas dari Klaten hadir dalam workshop ini, yaitu dari Sanggar Anak Kampung Indonesia, Gerilya Pemuda Prawirotaman 08, Komunitas Cemara – Ledok Code yang semuanya berasal dari Jogjakarta. Sementara dari Klaten adalah Sanggar Lare Menthes, Padepokan Kyai Suluh, dan Radio Komunitas Lintas Merapi. Hadir sebagai narasumber Hendro Sangkoyo dan Arief Yudi (Jatiwangi Art Factory). Fasilitator utama adalah Ramses, dibantu oleh Ade Tanesia dan Kukuh dari CCES. Pada hari pertama Hendro Sangkoyo memaparkan persoalan semakin hilangnya ruang hidup bersama suatu masyarakat.

Materi yang diberikan oleh Hendro Sangkoyo fokus pada semakin rentannya keberadaan ruang hidup masyarakat akibat kebijakan modal yang secara massif telah mengalihkan ruang hidup pada kepentingan modal. Dalam istilah Hendro Sangkoyo, masyarakat telah diledakkan dari luar, dan meledak dari dalam.  Ruang hidup tentunya beragam, tidak hanya persoalan penyempitan lahan, tetapi juga serbuan produk dan realitas dunia televisi yang telah membentuk cara kita hidup yang mengarah pada praktek konsumtif semata. Ruang hidup manusia tidak hanya persoalan fisik, tetapi juga kaitan antara tanah, ruang kemandirian ekonomi, sosial kebudayaan serta spiritual warganya. Hendro Sangkoyo memberikan contoh tentang kawasan Jawa Bagian Utara. Menurutnya sejak tahun 1950-an, wilayah itu tidak diperuntukkan bagi industrialisasi tetapi dibuatkan waduk jatiluhur untuk mengairi persawahan petani.  Tetapi akhirnya kawasan ini menjadi sasaran industrialisasi. Jogjakarta-Surakarta dimana Klaten menjadi bagiannya, juga sebuah metro yang sedang tumbuh dengan perkembangan dari luar, bukan dari dalam.  Klaten yang merupakan daerah pertanian pun sedang mengalami pengalihan lahan tani menjadi industri.

 

IMG_7096Dengan pengambilan ruang hidup masyarakat ini, maka kampung hanya menjadi daya tampung sedangkan penduduknya menjadi pekerja atau buruh yang menyebar ke wilayah lainnya. Hal ini terjadi karena berlangsungnya rantai ekonomi global yang sangat kuat, tidak hanya menyebabkan ekonomi lokal kalah bersaing, tetapi juga merontokkan rantai ekologis dan budaya yang dibutuhkan manusia untuk kehidupannya. Dalam konteks ini, warga kampung adalah garis depan untuk menghadapi kekuatan pengrusakan ruang hidup dari luar. Yang menjadi pertanyaan, apakah warga mempunyai siasat yang cukup kreatif dalam mengorganisir dirinya serta menciptakan kemungkinan baru untuk keberlangsungan hidupnya. Hendro Sangkoyo menambahkan bahwa penting untuk memahami sejarah kampung dalam konteks yang lebih besar, sehingga perlawanan warga kampung mempunyai akarnya. “Bahwa anda adalah penerus pelawan-pelawan sebelumnya,” ungkap Hendro Sangkoyo.

 

Jika diturunkan dalam konteks Jogja dan Klaten, maka hampir semua kampung memiliki persoalan ruang hidup. Komunitas Prawirotaman merasa ruang hidupnya hilang akibat desakan pembangunan hotel dan tidak cukup terserapnya warga dalam tenaga kerja di ranah industri pariwisata. Ledok Code dan Ledok Tukangan mengalami kerentanan status tanah dimana suatu saat mereka bisa digusur.  Hidup dalam pinggir sungai di kota besar juga membuat warga kehilangan identitas, sehingga penguatan identitas kampung  yang disertai keandirian di bidang ekonomi juga menjadi penting bagi kedua kampung di Pinggir Sungai Code.  Di Klaten, terutama di Dlimas, penyempitan lahan sawah untuk kehidupan juga sedang terancam oleh massifnya industri dan pabrik. Begitu pula di Deles, praktek tambang pasir akan mengakibatkan kerusakan lingkungan serta memperparah dampak dari bencana Gunung Merapi pada warga yang sebenarnya sudah cukup kuat dalam menghadapi erupsi.  Berdasarkan diskusi mengenai identifikasi masalah, maka masalah ruang hidup menjadi hal yang krusial bagi setiap komunitas. Ruang hidup juga menyangkut soal kemandirian ekonomi, kebudayaan, identitas warga,  kesempatan memperoleh pendidikan, kesehatan, dan relasi sosial.

Setelah memperoleh paparan materi dari Hendro Sangkoyo, maka setiap komunitas melakukan diskusi kelompok untuk memetakan masalah dan merumuskan draft ide untuk prototype yang ingin dilakukan. Rumusan ide ini berangkat dari persoalan masyarakat, visi perubahan yang hendak disampaikan setiap komunitas. Berdasarkan identifikasi masalah yang ada maka muncul rumusan ide dari Jogjakarta dan Klaten.

Komunitas SAKI dari Ledok Tukangan berangkat dari persoalan pendidikan dan penguatan kampung. Idenya adalah membuat perpustakaan mobile dengan menggunakan gerobak. Adapun isi dari perpustakaan itu adalah arsip mengenai sejarah kampung dalam bentuk tulisan, foto dan audio visual. Sementara Komunitas Prawirotaman tetap akan meneruskan Car Free Night yaitu dengan menutup jalan Prawirotaman II untuk digunakan sebagai ruang ekspresi warga dan komunitas kampung lain. Sementara itu secara rutin ingin mengaktifkan kembali kegiatan membatik pada anak-anak di sepanjang gang, serta workshop-workshop komunitas yang mengundang seniman atau komunitas lain.

Komunitas Cemara – Ledok Code sadar akan pentingnya penguatan ekonomi warga, sehingga mereka akan merintis sebuah produk kerajinan berdasarkan bahan-bahan lokal serta memamerkan dan memajang karyanya di rumah warga hingga pos ronda. Proyek mereka disebut “Kampung Lighting.”  Berdasarkan rumusan ide maka ada kaitannya pada ruang hidup:
1.     Kemandirian secara ekonomi
2.     Penguatan kampung melalui pengarsipan pengetahuan kampung
3.     Perebutan  penguasaan jalan raya sebagai ruang ekspresi warga

IMG_7114Untuk di wilayah Klaten, maka rumusan ide dari Rakom Lintas Merapi adalah dokumentasi dalam bentuk film mengenai upaya warga secara mandiri dalam mengantisipasi erupsi merapi,  pengelolaan pengetahuan masa lalu mengenai daerah kebencanaan agar tidak dilupakan oleh generasi mendantang. Selain itu dalam kesenian ada ide untuk membuat pentas seni ketoprak dan pendirian sanggar yang diinisiasi oleh warga. Padepokan Kyai Suluh, Dlimas, berangkat dari persoalan industrialisasi yang menyebabkan pengalihan lahan sawah menjadi kawasan industri. Hal ini mengakibatkan peralihan profesi dari petani pemilih tanah menjadi buruh pabrik atau merantau. Dengan perubahan masyarakat agraris ke industri maka bentuk-bentuk ekspresi budaya pun semakin luntur yang terlihat dari terjadinya degradasi seni tradisi yang tidak lagi diminati oleh anak muda.

Berdasarkan kedua masalah ini maka dibutuhkan sebuah ruang eksplorasi atau “ laboratorium” dalam  hal:
1.     Pengolahan ekonomi kreatif yang masih berkaitan dengan lingkungan yaitu ternak lele dan tanaman hydroponik. Ini untuk merespon masalah kemandirian ekonomi agar tidak menjadi buruh tetapi enterpreneur.
2.     Penguatan identitas warga melalui kesenian dalam bentuk teater, musik, tari.
3.     Penguatan pengetahuan warga dengan dokumentasi dalam bentuk foto, film, yang seluruhnya dapat diakses melalui website.

Sanggar Lare Menthes berangkat dari persoalan pendidikan anak melalui kreativitas di bidang musik yang memanfaatkan barang bekas. Berdasarkan rumusan ide dari keenam komunitas ini, maka bisa disimpulkan bahwa respon terhadap persoalan semakin sempitnya ruang hidup dalam bentuk tanah, sawah, lingkungan lainnya sungguh disadari tak mudah untuk dilawan secara frontal.    Yang menarik, tak banyak ide untuk melakukan advokasi kebijakan pemerintah untuk terjadinya perubahan, melainkan penguatan masyarakat sipil yang berkaitan dengan pergulatan hidup mereka sehari-hari. Mereka memilih kemandirian dalam bidang ekonomi dan ekspresi budaya untuk menaikkan daya tawarnya di tingkat lokal.  Sebenarnya strategi organik ini tidak lepas dari pengalaman Jatiwangi Art Factory seperti yang dipaparkan oleh Arief Yudi sebagai pendirinya.

 

IMG_7098JAF berawal dari mengenali kebutuhan warga kampungnya. Setelah pengenalan akan karakter dan kebutuhan warga, maka JAF menjadi pihak yang memfasilitasi terjadinya kebutuhan tersebut, misalnya dengan membuat Jatiwangi terkenal dan mendatangkan banyak orang ke desanya. Hal ini memperkuat identitas warga serta meningkatkan daya tawar di tingkat pemegang kebijakan, sehingga akhirnya Jatiwangi Art Factory bisa ikut menentukan dalam penentuan kebijakan publik. Tentunya keenam komunitas ini baru mengawali kerjanya dalam level penguatan komunitas untuk memperkuat daya tawar mereka dalam masyarakatnya sendiri.  Mereka ingin mengembangkan sebuah model kerja kreatif yang kelak bisa menjadi inspirasi warga lainnya.
Setelah dua hari workshop ini, maka setiap komunitas akan mematangkan idenya dengan pendampingan dari fasilitator lapangan. Baru kemudian akan ada pertemuan lagi untuk presentasi ide yang sudah matang serta pemilihan prototype yang akan didukung oleh program CreativeNet. Namun dalam dukungan ini, juga dibutuhkan suatu titik temu isu antarkomunitas untuk memunculkan sebuah karya bersama. *** (Ade Tanesia).

Posted in: