Berbagi Kisah di Padepokan Kyai Suluh, Dlimas, Klaten

Tiga Komunitas Berbagi Cerita di Padepokan Kyai Suluh, Dlimas

Selasa, 28 April 2015. Tepat selepas magrib, teman-teman dari Komunitas Sanggar Lare, Gantiwarno, Radio Komunitas Lintas Merapi, Deles, telah berkumpul di  Padepokan Kyai Suluh, Dlimas yang juga  kediaman Rudi Yesus selaku pimpinan padepokan. Pertemuan ini dibuka oleh Kukuh, fasilitator  CCES (Center of Civic Engagement Studies) yang menjabarkan agenda acara, dan  disambung  oleh Rudi Yesus sebagai tuan rumah.  Pertemuan antarkomunitas desa yang berbeda relatif jarang terjadi di Klaten. Sehingga berbagi cerita mengenai persoalan yang terjadi di desa masing-masing,  dan apa saja yang telah dilakukan oleh komunitas merupakan hal yang sangat menarik.

Rudi Yesus, pendiri sekaligus pimpinan Padepokan Kyai Suluh memaparkan berbagai persoalan yang  terjadi di Desa Dlimas, khususnya mengenai kekayaan seni tradisi dan budaya yang sedang mengalami degradasi. Konon Desa Dlimas adalah desa pemegang seni tradisi, artinya banyak seniman tradisi yang berasal dari wilayah ini. Selain itu hingga kini masih hidup  ritual bersih desa yang menjadi acara penting bagi warga dibandingkan hari raya Idul Fitri. Ritual bersih desa ini biasanya dipusatkan di makam leluhur kampung yang berada dalam satu kompleks dengan ruang pertunjukan milik desa. Untuk seni tradisi, sedang terjadi stagnasi regenerasi pelaku seninya. Sebagai contoh, generasi muda kini gagap memainkan ketoprak dengan mengandalkan metode “carangan” yang biasa dipraktekkan kaum generasi tua.  Menghadapi hal ini, Padepokan Kyai Suluh berusaha mengumpulkan anak muda untuk melakukan pelatihan pengenalan seni ketoprak, serta mementaskan pertunjukan dengan naskah tertentu. Melalui cara ini maka diharapkan seni ketoprak masih diminati oleh anak muda melalui pendekatan yang sesuai zamannya.

Menurut Rudi Yesus, selama ini belum ada program untuk seni tradisi, dan  pengembangan keterampilan khusus untuk anak-anak muda. Sejalan dengan berubahnya kawasan pertanian menjadi industri maka dibutuhkan keterampilan tertentu  untuk mendukung kemandirian anak muda di masa depan. Apalagi keberadaan pabrik tidak signifikan dengan penyerapan tenaga kerja di wilayah Dlimas. Pekerja pabrik masih lebih banyak orang luar Desa Dlimas daripada warga desa sendiri.   Merespon kondisi ini, Padepokan Kyai Suluh sudah mengusahakan pengembangan ekonomi seperti beternak lele, dan kini sedang mencoba kemungkinan lainnya. “Disini kebanyakan usia produktif bekerja sebagai buruh, selebihnya pengangguran atau mencari peruntungan di luar Kota Klaten. Oleh karena itu, selain tetap berkesenian, kita berusaha mencari peluang usaha yang bisa dikerjakan oleh anak muda,” ungkap Rudi Yesus.  Dengan lahan sawah yang terancam hilang karena berubah menjadi kawasan industri, serta semakin sedikitnya minat generasi muda untuk bertani, maka generasi muda Dlimas dituntut untuk kreatif serta mandiri. Dalam konteks ini Padepokan Kyai Suluh memadukan programnya antara kemandirian ekonomi, dan bentuk seni yang mengaitkan antara kecintaan terhadap lingkungan dan kebudayaan.

 

    Berbeda dengan yang terjadi di  Dlimas,  warga Deles yang berada di kaki Gunung Merapi masih giat dalam pertanian. Generasi muda tetap menjadikan pertanian sebagai tulang punggung ekonominya.  Komunitas Lintas Merapi awalnya adalah radio komunitas untuk kebencanaan yang digagas oleh Pasag Merapi sekitar 15 tahun silam. Dalam perjalanannya radio komunitas ini tidak hanya melakukan siaran tetapi juga mengembangkan pendidikan lingkungan bagi anak-anak kecil, sehingga dibentuk KANCING (Kelompok Anak Pencinta Lingkungan). Kegiatannya berkebun, memberi makan pada satwa di hutan. “Kami ingin mengajarkan pada mereka, monyet saja kita kasih makan, apalagi manusia. Ini untuk menumbuhkan kecintaan anak pada lingkungan secara utuh dan agar mereka terbiasa hidup berdampingan tanpa rasa takut dengan Gunung Merapi,” lanjut pak Sukiman, pendiri dan pimpinan Radio Komunitas Lintas Merapi.  Kesenian tradisi di kawasan Deles juga masih cukup kuat, ada beberapa kelompok ketoprak, wayang, jathilan yang masih aktif berlatih dan mengadakan pementasan.  Adapun persoalan yang dihadapi oleh warga Deles lebih pada masalah lingkungan terkait penambangan pasir yang bisa mengakibatkan kerusakan lingkungan.

    Persoalan lingkungan tak terlalu menonjol di komunitas Sanggar Lare Mentes, Ganti Warno.  Sanggar yang berafiliasi dengan Sanggar Anak Akar di Jakarta ini berdiri setelah terjadinya gempa di Jogjakarta dan sekitarnya. Fokus pada anak-anak dan remaja, sanggar ini telah mengembangkan musik perkusi dengan menggunakan berbagai bahan yang ada, baik bahan bekas pakai maupun yang berasal dari alam. Tak hanya anak-anak, para ibu pun dilibatkan dalam musik perkusi dengan menggunakan cobek dan ulek maka lahirlah sebuah aransemen perkusi yang sangat unik.  Disamping kesenian, Lare Menthes juga mengembangkan ekonomi dengan beternak babi. Kendala yang terjadi adalah kecurigaan dari masyarakat akan isu kristenisasi dari sanggar ini sehingga kadang muncul keengganan warga untuk berkreasi di sanggar ini. Pada konteks ini, toleransi pada keberagaman merupakan persoalan krusial yang dihadapi oleh Sanggar Lare Menthes.

    Setelah masing-masing komunitas menceritakan persoalan dan upaya yang telah dilakukan oleh komunitasnya, maka berlangsung diskusi yang menarik.  Sanggar Lare Mentes menanggapi Radio Komunitas Lintas Merapi yang berhasil mengajak anak-anak untuk partisipasi. Sukiman dari Lintas Merapi mengatakan bahwa agar anak-anak diperbolehkan berkegiatan oleh orangtuanya, maka di Lintas Merapi ada pendidikan gratis yang mendukung pendidikan di sekolah, seperti belajar matematika, komputer, dan lain-lain. Orang tua biasanya akan memperbolehkan anaknya berpartisipasi jika ada manfaatnya untuk sekolah formal. Di dalam belajar bersama itu baru disisipkan kesadaran tentang pelestarian lingkungan dan lain-lain.  Ini adalah salah satu metode yang dijalankan oleh Lintas Merapi. Menurut Sukiman, melibatkan perempuan tidak mudah, sehingga Lintas Merapi fokus terhadap anak-anak yang kelak juga menyentuh ibunya.

    Saling mengenal, saling berbagi, merupakan awal dari pembentukan jaringan komunitas kreatif di Klaten. Hal yang menarik adalah perbedaan antara kondisi Klaten atas (daerah pegunungan) dan Klaten bawah (pertanian persawahan).  Tantangan  yang dihadapi berbeda, sehingga saling mendukung diantara keduanya sangat penting untuk memperkuat dan memperjuangkan isu-isu utama yang ada di wilayah pedesaan di Klaten. *** (ade aryana uli)