Organisasi

  • CCES LOGO

  • Lembaga yang didirikan ini bernama “CENTER FOR CIVIC ENGAGEMENT AND STUDIES”, atau jika dialihbahasakan dapat menjadi PUSAT KAJIAN DAN PENGUATAN KEWARGAAN, berkedudukan di Yogyakarta.

    Lembaga ini didirikan oleh berbagai pihak yang memiliki latar belakang berbeda dalam berkegiatan di ranah masyarakat sipil, namun memiliki cara pandang dan misi yang sama didalam mencoba memperkuat masyarakat sipil dan media sebagai faktor utama dalam mengawal transisi demokrasi di Indonesia kearah yang lebih baik.

  1. Before
  2. After

Alisa Wahid

— Board of Director

Alissa Wahid adalah psikolog keluarga terlatih dengan pengalaman pemberdayaan masyarakat dan gerakan sosial. Ia mendedikasikan waktunya sebagai relawan dan profesional di sejumlah organisasi masyarakat sipil sejak tahun 1990. Alissa Wahid saat ini menjadi koordinator jaringan GUSDURian Indonesia. Jaringan ini beranggotakan lebih dari 100 komunitas lokal dan ribuan individu di Indonesia dan berbagai kota di dunia.
Sebagai pimpinan dari sebuah jaringan yang luas, Alissa terlibat dan mensupervisi berbagai macam program perubahan sosial, dengan fokus dialog antar agama dan multikulturalisme, demokrasi, masyarakat sipil dan program khusus tentang Islam Indonesia.  Minat terbesar perempuan ini adalah mendukung generasi masa depan untuk menjadi pemimpin masyarakat.

  1. Before
  2. After

Arie Sudjito

— Board of Director

Doktor Sosiologi Universitas Gadjah Mada ini telah memiliki pengalaman profesional lebih dari 18 tahun di dalam bidang penelitian, penulisan buku maupun aktivitas di bidang advokasi. Lebih dari 20 judul buku telah ditulis olehnya, baik secara individu maupun sebagai bagian dari tim. Sebagai peneliti, Arie telah mulai melakukan penelitian semenjak mahasiswa dan sebagian besar penelitian yang dilakukan terkait dengan advokasi desa, perbaikan tata kelola pemerintahan yang baik, serta hak-hak dasar warga. Di luar penelitian dan penulisan buku, Arie banyak berkecimpung di dalam gerakan masyarakat sipil  di Indonesia. Selain pernah menduduki jabatan sebagai Direktur Eksekutif IRE (Institute for Research and Empowerment), Arie aktif di IRE hingga saat ini sebagai peneliti senior.

Staf pengajar fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada ini juga aktif berkecimpung dalam gerakan masyarakat sipil dengan menjadi ketua umum Dewan Pergerakan Nasional Pergerakan Indonesia serta menjadi Wakil Ketua Dewan Nasional Sekretariat Nasional (Seknas) Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA). Arie ikut mendirikan CCES di tahun 2014 yang lalu bersama dengan Okky Madasari, Yulia Evina Bhara, Imam Prakoso dan Ranggoaini Jahja.

  1. Before
  2. After

Eko Teguh Paripurno

— Board of Director

Doktor untuk bidang pengetahuan alam ini memiliki pengalaman profesional lebih dari 30 tahun sampai saat ini masih tercatat sebagai dosen Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta. Selain sebagai pengajar semenjak tahun 2001 menjadi ketua Pusat Studi Manajemen Bencana di Universitas yang sama sampai saat ini. Penerima Sasakawa Award untuk penanggulangan bencana tahun 2009 ini juga sebagai fellow dari the Ashoka Global semenjak tahun 2008.

Pengalaman di bidang kebencanaalaman telah dimulai jauh sebelum Undang-Undang Penanggulangan Bencana disahkan tahun 2007. Selain itu Eko Teguh aktif pula sebagai konsultan untuk kegiatan penanggulangan bencana yang dilaksanakan oleh UNDP, UN OCHA, BNPB, maupun lembaga Internasional lainnya. Di luar karir profesional, sebagai ahli, Eko Teguh sering terlibat dalam kegiatan advokasi kerusakan lingkungan. Di luar itu, juga aktif dalam MPBI (Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia), PIKUL dan juga KAPPALA selain sebagai Steering Committee International Council for Science untuk wilayah Asia Pacific sejak tahun 2012 hingga saat ini.

  1. Before
  2. After

Kokok Herdhianto Dirgantoro

— Board of Director

Kokok Herdhianto Dirgantoro yang lahir di hari Kebangsaan Indonesia, tepat 17 Agustus 1976, memiliki banyak pengalaman profesional dalam strategi media. Pria lulusan Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang ini, menyelesaikan gelar sarjana ekominya tahun 2001 dan pernah menjadi jurnalis Jawa Pos sejak tahun 2000-2002. Kokok Herdhianto Dirgantoro memiliki banyak pengalaman yang mumpuni, pernah menjadi Media Relations Consultant di PT Stracomm Indonesia dan PT Bank Permata Tbk, Jakarta,  dan juga menjadi anggota organisasi profesi para praktisi Humas dan Komunikasi Indonesia, PERHUMAS. Sejak tahun 2005 – 2013 menjadi CEO di PT Strategiccomm Indonesia (TriliantComm), Jakarta. Dia sosok yang kenal menjadi CEO kontroversial yang menerapkan nilai humanismenya dalam sistem kerja saat menjadi Founder and CEO PT Jembatan Komunika Indonesia (OpalCommunications).

  1. Before
  2. After

Imam Prakoso

— Executive Director

Pria dengan pengalaman  profesional lebih dari 25 tahun ini mengawali karier sebagai peneliti, wartawan serta konsultan sebelum mulai masuk di dunia gerakan masyarakat sipil di Indonesia.  Isu perkotaan, media engagement,  perbaikan tata kelola pemerintahan serta penanggulangan bencana digeluti selama karir profesionalnya. Sejak tahun 2008, Imam juga menjabat sebagai Board of Directors dari AMARC Asia Pacific, sebuah organisasi radio komunitas dunia sub-region Asia Pasifik yang berkantor di Kathmandu, Nepal.

Imam sempat menjadi Co-team leader dalam sebuah proyek pembangunan perkotaan di Yogyakarta yang didukung oleh SDC (Swiss Development Corporation), kemudian menjadi Direktur Eksekutif Combine Resource Institution (CRI) sebuah LSM yang bergerak dibidang media alternatif dan teknologi informasi untuk gerakan perubahan sosial. Setelah lebih dari delapan tahun di sana, Imam sempat bergabung dalam tim Governance pada sebuah program perbaikan tata kelola pelayanan publik yang didanai oleh USAID di Jakarta. Belakangan Imam lebih banyak aktif sebagai konsultan lepas untuk beberapa program, dan setelah ikut mendirikan CCES bersama Arie Sujito, Ranggoaini Jahja, Okky Madasari dan Yulia Evina Bhara kini menjabat sebagai Direktur Eksekutif CCES.

  1. Before
  2. After

Ranggoaini Jahja

— Program Manager

Ranggoaini Jahja telah bekerja dan menekuni isu-isu Hak Asasi Manusia, khususnya perempuan dan anak, sebelum mendirikan CCES bersama para koleganya. Kehidupan sosial kelompok-kelompok yang termarjinalkan, seperti anak jalanan perempuan, buruh migran dan kaum LGBT, menjadi bidang kajian yang diminatinya sejak tahun 1996.

Lulusan S2 jurusan Antropologi UGM ini kemudian melihat pentingnya mendorong pemanfaatan media dan instrumen informasi yang efektif untuk mendorong pengelolaan pengetahuan komunitas. Kompetensi di bidang itu dipelajarinya sejak tahun 2015, setelah bergabung dengan Combine Resource Institution, sebuah LSM di Yogyakarta. Sejak saat itu pula penguatan kapasitas organisasi di tingkat lokal untuk terlibat dalam tata kelola pemerintahan menjadi aktivitas yang digelutinya hingga sekarang.

  1. Before
  2. After

Ferry Edwin Sirait

— Knowledge Management Officer

Sejak mahasiswa menggeluti aktifitas jurnalistik di Persma PiJAR, dan lulus dari Fakultas Filsafat Universitas Gadjah mada dengan menuliskan penelitian sarjana berjudul ‘Dilema Eksistensial Negara’. Menjalani pengalaman profesional sejak lama sebagai videomaker dan web developer. Kebiasaan dalam penciptaan audiovisual dan pengenalan beberapa bahasa pemograman komputer yang berdasarkan pada basis data, sistem proses, riset dan cerita mendorongnya untuk menggeluti ruang Trans-StoryTelling. Bersama beberapa temannya membuat kolektif multidisiplin desain pengkaryaan bernama NextDoc. Karena senang berelasi mutual bersama komunitas akar rumput yang memperjuangkan perubahan sosial di beberapa daerah, membuatnya bereksperimen terus-menerus pada pemanfaatan media dan teknologi yang memungkinkan perluasan partisipasi dan interaksi otonom. Ia kemudian melanjutkan eksplorasi pengetahuan ini bersama dengan CCES.

  1. Before
  2. After

Ade Aryana Uli Pandjaitan

— Creative and Media Development

Lahir di Jakarta dan lulus dari Jurusan Antropologi, Universitas Indonesia, Depok.  Meniti karirnya sebagai peneliti bidang antropologi, lalu menjadi penulis di Media Alternatif Aikon, Latitudes Magazine, dan di berbagai media massa cetak seperti Jakarta Post, Kompas, Koran Tempo, dan lain-lainnya. Ia juga menggeluti pengembangan media berbasis komunitas dengan bekerja selama delapan tahun di COMBINE Resource Institution dan di Engage Media. Menjadi Koordinator “Community Creative” untuk bidang Video di Yayasan Kelola. Selain itu, juga aktif menjadi fasilitator untuk pelatihan-pelatihan jurnalisme warga dan strategi pengembangan media komunitas.  Ia juga aktif mengorganisir berbagai event seperti Djaksa Fair, Jagongan Media Rakyat, Navicula Music Performance di Sangkring Art Space, Climate Art Festival, Pameran “Tanah to Indai Kitae.” Beberapa karya video dokumentasinya dapat diakses di engage media dan youtube, diantaranya “Kami Mau Sekolah,” “Agama Kami Kaharingan,” “Pemasangan Plang Hutan Adat bukan Hutan Negara,” “Sangiang.”